
dr. Yus Priatna A, Sp. P
NIP. 19771002 200604 1 066
- (0332) 421710
- (0332) 421974
- (0332) 422038

RSDK hari ini. World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 360 juta (5.3%) orang di dunia mengalami gangguan cacat pendengaran, 328 juta (91%) diantaranya adalah orang dewasa (183 juta laki-laki, 145 juta perempuan) dan 32 juta (9%) adalah anak-anak. Tingginya angka kejadian dari gangguan cacat pendengaran menjadi perhatian masyarakat di dunia sehingga pada tanggal 3 Maret 2007 diadakanlah Konferensi Internasional Pertama tentang Pencegahan dan Rehabilitasi Gangguan Pendengaran di Beijing, China yang kemudian melahirkan Hari Perawatan Telinga Sedunia. Menjelang beberapa tahun kemudian, World Health Organization (WHO) memutuskan untuk mendeklarasikan Hari Perawatan Telinga Sedunia menjadi Hari Pendengaran Sedunia (World Hearing Day).
Hingga saat ini Hari Pendengaran Sedunia (World Hearing Day) atau Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran (HKTP) diperingati setiap tahunnya pada tanggal 3 Maret dan pada tahun 2024 kali ini jatuh pada hari Minggu. Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran (HKTPI diperingati dengan tujuan:
- Mengatasi kesalahan persepsi umum terkait masalah telinga dan pendengaran di masyarakat dan penyedia layanan kesehatan.
- Memberikan informasi yang akurat dan berbasis bukti untuk mengubah persepsi masyarakat mengenai masalah telinga dan pendengaran.
- Menyerukan negara-negara dan masyarakat sipil untuk mengatasi kesalahan persepsi dan pola pikir stigmatisasi terkait gangguan pendengaran, sebagai langkah penting untuk memastikan akses yang adil terhadap perawatan telinga dan pendengaran.
Tema peringatan Hari Pendengaran Sedunia (World Hearing Day) atau Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran (HKTP) Sedunia tahun 2024 adalah “Changing Mindsets: Let’s make ear and hearing care a reality for all” yang berarti 'Mengubah pola pikir: Mari wujudkan perawatan telinga dan pendengaran bagi semua orang!'. Sedangkan untuk tema peringatan secara nasional adalah “Ubah pola pikirmu, Mari peduli, Tuli dapat ditangani”. Tema ini dipilih untuk mengajak masyarakat meluruskan mispersepsi maupun pola pikir stigmatisasi serta mengatasi tantangan yang ditimbulkan melalui peningkatan kesadaran dan berbagi informasi, yang ditargetkan pada masyarakat dan penyedia layanan kesehatan. Apa saja pesan utama dari Hari Pendengaran Sedunia (World Hearing Day) atau Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran (HKTP) Sedunia? Berikut adalah penjelasannya
- Secara global, lebih dari 80% kebutuhan perawatan telinga dan pendengaran masih belum terpenuhi.
- Kesalahpahaman masyarakat yang mengakar dan pola pikir yang menstigmatisasi merupakan faktor utama yang membatasi upaya pencegahan dan penanganan gangguan pendengaran.
- Mengubah pola pikir terkait perawatan telinga dan pendengaran yang sangat penting untuk meningkatkan akses dan mengurangi dampak gangguan pendengaran yang tidak tertangani.
Sebagai salah satu instansi yang menyediakan layanan jasa kesehatan di wilayah kabupaten Bondowoso dan sekitarnya, RSUD dr. H. Koesnadi (RSDK) memiliki caranya tersendiri dalam merayakan Hari Pendengaran Sedunia (World Hearing Day) atau Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran (HKTP) Sedunia. RSUD dr. H. Koesnadi (RSDK) menganggap bahwa mispersepsi maupun pola pikir stigmatisasi yang dimiliki oleh masyarakat dapat ditanggulangi dengan cara memberikan edukasi maupun informasi kesehatan yang benar secara simultan dan berkelanjutan. Harapannya dengan memperoleh akses secara mudah dalam mendapatkan edukasi kesehatan seputar Kesehatan Telinga dan Pendengaran, masyarakat menjadi lebih tahu dan lebih sadar untuk menjaga Kesehatan Telinga dan Pendengaran miliknya sekaligus orang-orang terdekatnya. Oleh sebab itu pada hari Kamis tanggal 7 Maret 2024 pukul 09.00 hingga 10.00 WIB bertempat di depan ruang tunggu poli Anak, RSUD dr. H. Koesnadi (RSDK) mengadakan sosialisasi kesehatan bersama poli Telinga Hidung Tenggorokan (THT) dan Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Tema yang diangkat kali ini yaitu Anak Telat Bicara Akibat Gadget? Benarkah? Pemateri yang bertugas adalah dr. Dwi Novitasari, Sp. THT – KL sekaligus beberapa Dokter Muda dari Kelompok Staf Medis Ilmu Kesehatan THT-BKL Fakultas Kedokteran Universitas Jember.
Apa itu keterlambatan bicara atau speech delay? Keterlambatan bicara atau speech delay adalah keterlambatan proses bicara seorang anak dibandingkan dengan proses bicara anak seusianya. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan gadget secara dini dan berlebihan pada anak. Sebuah penelitian pada tahun 2022 mengungkapkan bahwa penggunaan gadget pada anak usia dibawah 1 tahun meningkatkan dan berhubungan langsung pada terjadinya peningkatan autisme terutama pada gangguan komunikasi serta social pada usia 3 tahun. dr. Dwi Novitasari, Sp. THT – KL menyebutkan bahwa keterlambatan bicara atau speech delay pada anak maupun balita dapat terjadi dari beberapa factor resiko dimulai dari factor ibu pada masa sebelum hamil, saat hamil hingga saat melahirkan serta factor dari anak mulai dari factor internal hingga eksternal.
Dokter Muda dari Kelompok Staf Medis Ilmu Kesehatan THT-BKL Fakultas Kedokteran Universitas Jember juga menyebutkan bahwa sebelum mengetahui apa saja tanda-tanda dari keterlambatan bicara atau speech delay pada anak, maka penting sekiranya untuk mengetahui perkembangan bicara pada anak secara normal yaitu
- Bayi baru lahir secara normal memiliki perkembangan bicara melalui kegiatan menangis
- Bayi umur 2-3 bulan memiliki perkembangan bicara dengan dapat mengatakan “aaaa uuuuu”
- Bayi umur 6 bulan memiliki perkembangan bicara dengan merespon emosi dan nada bicara hingga mengoceh “mamama papapa”
- Bayi umur 6-9 bulan memiliki perkembangan bicara dengan mengerti nama dirinya serta mengoceh tanpa arti
- Bayi umur 9-12 bulan memiliki perkembangan bicara dengan dapat mengucap mama papa dengan arti sekaligus menirukan kata yang didengar (70 kata)
- Balita umur 12-18 bulan memiliki perkembangan bicara dengan mengucapkan 3-6 kata dengan arti dan mengikuti perintah satu Langkah sekaligus dapat mengangguk, menggeleng dan menunjuk
- Balita umur 18-24 bulan memiliki perkembangan bicara dengan memahami bahasa serta dapat mengikuti perintah dua langkah
- Balita umur 2-3 tahun memiliki perkembangan bicara dengan hampir semua kata yang diucapkan dapat mengerti orang lain, membuat kalimat tiga kata atau lebih serta mulai senang bernyanyi
- Balita umur 3-5 tahun memiliki perkembangan bicara dapat menyebutkan nama, umur, jenis kelaminnya serta dapat bercerita tentang apa yang dialaminya
Nah, lalu apa saja yang perlu diwaspadai jika muncul pada bayi dan anak kita? Dokter Muda dari Kelompok Staf Medis Ilmu Kesehatan THT-BKL Fakultas Kedokteran Universitas Jember juga menyebutkan bahwa sebagai orang tua ataupun kerabat dekat dapat segera mengkonsultasikan kepada tenaga professional segera jika menemukan hal berikut
- Bayi 0-6 bulan patut diwaspadai saat tidak menoleh jika dipanggil Namanya dari belakang serta tidak mengoceh “baba, gaga, papapa, mamama”
- Bayi 6-12 bulan patut diwaspadai saat tidak menunjuk dengan jari pada usia 12 bulan serta kemampuan ekspresi wajah kurang pada usia 12 bulan
- Balita umur 12-18 bulan patut diwaspadai saat tidak ada kata-kata yang berarti pada usia 16 bulan
- Balita 18-24 bulan patut diwaspadai saat tidak ada kalimat dua kata yang dapat dimengerti pada usia 24 bulan
Apa saja yang harus dilakukan sebagai orang tua? Dokter Muda dari Kelompok Staf Medis Ilmu Kesehatan THT-BKL Fakultas Kedokteran Universitas Jember menyebutkan bahwa mendampingi anak saat bermain gadget adalah jalan keluar utamanya. Selain itu perlu mengikuti batasan maksimal waktu menggunakan gadget sesuai usianya, seperti
- Bayi kurang dari 18 bulan tidak direkomendasikan untuk bermain gadget kecuali kepentingan obrolan video call bersama keluarga sebagai bentuk interaksi antara keluarga dan bayi
- Balita 18-24 direkomendasikan maksimal bermain gadget selama kurang dari satu jam per harinya dengan berfokus pada program edukasi yang didampingi langsung oleh orang tua ataupun pengasuh
- Balita 2-5 tahun direkomendasikan maksimal bermain gadget selama satu jam per hari kerja (weekday) dengan berfokus pada program edukasi serta ditambah tiga jam per harinya saat akhir pekan (weekend)
- Anak lebih 6 tahun direkomendasikan untuk mendorong kebiasaan sehat, membatasi aktivitas yang menggunakan gadget serta mematikan semua layer selama aktivitas makan dan jalan-jalan keluarga
Sebagai penutup, Dokter Muda dari Kelompok Staf Medis Ilmu Kesehatan THT-BKL Fakultas Kedokteran Universitas Jember mengingatkan kembali beberapa hal lainnya yang perlu dilakukan sebagai orang tua ataupun pengasuh karena anak merupakan peniru ulung dan akan belajar secara langsung dengan mengamati apa yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya. “Menjadi contoh yang baik untuk anak dapat dilakukan dengan tidak bermain gadget di depan anak, tidak menggunakan gadget sebagai penghibur atau pengalih perhatian saat anak sedang rewel serta matikan gadget selama 30-60 menit sebelum tidur. Semoga dengan melakukan hal-hal kecil secara rutin anak dapat meniru aktivitas positif tersebut sehingga peluang terjadinya keterlambatan bicara atau speech delay pada anak dapata diminimalisirkan.” ungkapnya.
Kegiatan penyuluhan ataupun edukasi kesehatan kali ini berjalan lancar dan diakhiri dengan pembagian souvenir cantik. Kami ucapkan selamat kepada beberapa orang yang beruntung yaitu ibu Sumiati, bapak Iqbal serta ibu Dina. RSUD dr. H. Koesnadi (RSDK) akan terus membantu masyarakat dengan cara meningkatkan kualitas mutu pelayanan kesehatannya. Jayalah dan penuh akan semangat RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso. Berikan semangat juang dan pelayanan prima kepada seluruh masyarakat. Salam Sehat. (PKRS/SWILING)

- Pengumuman Perekrutan Pegawai BLUD (NON ASN)
- Kegiatan Masukan Dan Klarifikasi Surveyor Akreditasi, Dikejutkan Dengan Adanya Kegawatdaruratan Code
- RSDK Sekilas Info, Poli Rawat Jalan Tutup Sementara 17-18 Juni Dan Kembali Buka 19 Juni 2024
- LAKIP 2016
- Simak Penjelasan Perawatan Luka Pasca Melahirkan oleh Ummi Amanah, SST
- Direktur RSDK, Pinta Rekruitment Tahun 2023 Berfokus Pada Pemenuhan SDM Berkualitas Dan Berkomitmen
- Rasakan Kemanfaatan UHC, Tren Permintaan Operasi Orthopaedi Dan Traumotologi Alami Peningkatan
- Selamat Hari Saka Bakti Husada 2022
- Indeks Kepuasan Masyarakat RSDK Tahun 2023 Meningkat Menjadi 83.47%
- Persiapkan Diri Menjelang Puasa, RSDK Adakan Sosialisasi Diet DM Saat Puasa
- Sosialisasi Jadwal Pelayanan Poli Di Lingkungan RSDK Berjalan Lancar
- Rekrutmen Objektif & Penuh Transparansi, RSDK Tekankan Tidak Ada Gratifikasi
- Dapatkan Informasi Akurat Di Pojok Edukasi Informasi Dan Majalah Dinding RSDK
- Banyaknya Penyalahgunaan Obat Analgesik, RSDK Adakan Edukasi Bijaklah Mengkonsumsi Obat
- Penutupan Festival Muharram RSDK Dipenuhi Semarak Antusiasme Kebahagian Dari Masyarakat
- Jadwal Praktek Dokter Spesialis Bulan Oktober, Simak dan Cari Tau Jadwal Dokter Favoritmu
- Layanan Prima Instalasi Radiologi Dapat Menuju Angka Lebih Dari 1500 Pasien Setiap Bulannya
- Sharing dan Edukasi Kesehatan Penyakit Demensia (Pikun) Bersama Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNEJ
- Kolaborasi PMI dan RSUD dr.H. Koesnadi gelar Donor Darah
- Orientasi Khusus Perawat & Bidan Hari Kedua Dipenuhi Semangat Baru Kebersamaan
- Dikunjungi oleh : 912509 user
- IP address : 18.97.14.84
- OS : Unknown Platform
- Browser :